Ini hari yg sama dan malam yg sama seperti seminggu yg lalu, tapi
tidak dengan momen yg sama saat aku melewati hari dan malam minggu yg
lalu bersamanya dan menebar cinta. karna ini hari yg sama, bolehkah aku
bercerita sedikit soal perasaanku disaat itu ?
Awalnya
aku berniat ingin sekali memarahinya, memasang tampang jutekku
dihadapannya. Tapi saat dihadapannya aku tak mampu berkata apapun. Saat
bersamanya aku menjadi orang yang sangat bodoh, aku menjadi wanita
rendahan, aku menjadi wanita yang tak tahu malu. Padahal dengan orang
lain aku bisa menjadi wanita yg sombong, angkuh, dan wanita yg sok jual
mahal. Tapi kenapa dengannya aku tak bisa melakukan itu ?
Aku
merasakan adanya perubahan dalam dirinya, tak segan-segan dia
menunjukkan sikap romantisnya dihadapan teman-temannya. Kadang dia
berkata sesuatu yg manja seperti; "ga ah aku masih mau sama kamu" atau
"ga lah dia kan maunya sama cuma gue" dan "aku maunya ngeliat kamu
terus" dan kadang dia mengelus-elus puncak kepalaku beberapa kali, atau
menyandarkan kepalanya dipundakku.
Aku sangat terkejut dengan
sikapnya yg seperti itu dihadapan temannya seolah-olah menunjukkan bahwa
aku hanyalah miliknya seutuhnya dan aku merasa sangat senang dengan
sikapnya yg seperti itu. tapi tak bisa kupungkiri ada rasa sakit saat
aku menyadari bahwa dia bukanlah milikku yg seutuhnya dan aku takmau
menyadari bahwa mungkin aku yg besar kepala untuk beranggapan seperti
itu. Karena semuanya sudah tak seperti dulu, tak seperti 5 tahun yg
lalu, intesitasnya untuk membutuhkanku pun tak seperti dulu lagi.
Namun
wajah itu, wajah orang yang tak mempunyai kelebihan apapun dalam
dirinya, wajah yg tak mempunyai apapun yg patut dibanggakan, kecuali
sikapnya yg peduli pada orang disekitarnya. Tapi tetap tak mampu aku
lupakan hingga saat ini. Sementara dengan begitu mudahnya aku melepaskan
orang yg mempunyai berbagai macam kelebihan dari dirinya dan mampu
untuk kubanggakan. tapi kenapa harus dia ?
Aku menatap wajahnya
lekat-lekat berusaha untuk menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan
yg muncul dalam hatiku. Aku pun bertemu pandang dengannya, kami saling
bertatap dan dia menatapku dengan tatapan teduhnya seolah aku bisa
melihat adanya jawaban dalam tatapan itu, dia tersenyum dan aku pun ikut
tersenyum malu-malu.
Rasanya aku ingin waktu berhenti saat itu
juga, menyisahkan aku dan dia dalam keadaan seperti itu dan selanjutnya
biar aku dan dia yg menentukan waktu sendiri untuk perjalanan kami.
Dia
memintaku untuk terus menemuinya dan mengunjunginya lagi untuk waktu yg
lebih lama. Tapi tahukah kamu ? Andai kamu bisa memberiku sebuah
kejelasan pasti semuanya takkan sesulit ini, semuanya takkan sesakit
ini, dan semuanya takkan semenyesakkan ini. Aku akan dengan mudah
menemuimu, bisa mengunjungimu, dan dengan mudah mengekspresikan
perasaanku tanpa memikirkan alasan apa yg akan kuberikan pada mereka
agar memahami tanpa memandang rendah. Aku tahu jika cinta sudah melekat
sebuah status tidaklah lagi penting. Tapi untuk kejenjang yg lebih
tinggi bukankah status itu juga diperlukan ?
Saat
ditengah perjalanan ada sekumpulan orang yg akan melaksanakan lamaran
dan akupun memintanya untuk berhati-hati dan menyingkir sejenak, lalu
dia berkata "kenapa ? kamu mau dilamar juga?". "dilamar sama siapa ?"
ucapku. "sama aku" jawabnya seolah tanpa keraguan. Akupun terkejut
dengan jawabannya dan aku hanya bisa berkata "ah kamu mah masih lama".
"jadi kamu ga mau nunggu aku nih ? yaudaaah" ucapnya seraya menggodaku.
aku ingin sekali berkata "ga, aku mau dan pasti nunggu kamu" tapi yg
mampu kujawab hanyalah "ya ga gitu juga". Dalam hati aku sangat
mengharapkan ucapan itu, entah itu hanya asal bicara atau apapun, tapi
aku sangat berharap bahwa itu adalah sungguhan..
Selama
diperjalanan aku terus menatapnya dan sepertinya dia tahu bahwa aku
terus menatapnya
sehingga sesekali dia pun melirikku dari kaca spion motornya dan
tersenyum. aku ingin terus menatapnya seperti itu hingga aku terlelap
dalam penggungnya yg begitu kokoh menahan tubuhku. Tidak hanya untuk
saat itu, tapi untuk selamanya aku ingin terus menatapnya hingga aku
terlelap dan terus menatapnya hingga aku terbangun kembali bahkan hingga
aku terlelap untuk selamanya.